Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PLTS Portabel Buatan ITB dengan Output Daya 80 Watt

 Raih Juara 
https://statik.tempo.co/data/2021/12/09/id_1072577/1072577_720.jpgPembangkit Listrik Tenaga Surya-Solar Power Plant with Internet of Things System (SPITS)-buatan tim ITB. (Dok.ITB)

T
im dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat alat pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) portabel. Saat dilombakan di ajang Marine Paper Competition 2021 gelaran Institut Teknologi Sepuluh Nopember, karya itu pada November lalu dinobatkan sebagai juara pertama.

Alat yang dinamakan SPITS, singkatan dari Solar Power Plant with Internet of Things System, itu dilombakan oleh Muhammad Miqdad Nadra, Dicky Dwi Putra, dan Ramadani Putri. Mereka mahasiswa ITB dari Teknik Telekomunikasi angkatan 2017 serta Teknik Geodesi dan Geomatika 2018.

Menurut Dicky, alat itu bisa berfungsi di daerah bencana yang aliran listriknya terputus. Dia mencontohkan seperti kejadian gempa dan tsunami Palu 2018 ikut merusak instalasi pasokan listrik. “Perbaikannya pun membutuhkan waktu yang lama, sedangkan kebutuhan masyarakat terkait energi listrik menjadi prioritas,” kata dia di laman ITB, Kamis 9 Desember 2021.

Selain itu SPITS bisa dipasang di daerah terpencil. Secara garis besar, SPITS memiliki dua sistem yang terintegrasi, yaitu photovoltaic off grid atau pembangkit listrik dari sinar matahari, dan sistem manajemen energi. Dari sistem itu, pengguna bisa mengetahui besar daya, tegangan, dan arus listrik yang digunakan, serta kapasitas daya pada baterai.

Mekanismenya, panel surya akan menangkap intensitas cahaya matahari dan energi yang didapatkan akan disimpan pada baterai yang selanjutnya dapat dimanfaatkan masyarakat. “Alat ini mampu menghasilkan daya 80 watt,” katanya.

Kelebihan yang ditawarkan adalah alat ini memiliki tegangan arus bolak-balik atau AC 220 volt dan searah atau DC 12 volt. Alat ini telah menjalani pengujian photovoltaic dan tegangan output yang dihasilkan AC (224 V) dengan frekuensi 49,9 Hz. Adapun harga pokok produksi alatnya Rp 3.465.000.

SPITS merupakan alat yang dikembangkan dosen Wervyan Shalannanda dari kelompok keahlian Teknik Telekomunikasi, dan Agus Purwadi dari kelompok keahlian Teknik Ketenagalistrikan. Kolaborasi juga melibatkan alumni Abdurrauf Irsal dan Muhammad Alif Mi’raj Jabbar, serta Adelia Kurniadi.

Alat yang masih berupa purwarupa itu masih bisa dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas daya dan desainnya.


  ★ Tempo